Artikel Artikel
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2012

Pelajaran dari Peristiwa Muharram



TIGA belas tahun di Makkah, bukanlah waktu yang singkat yang dijalani Rasulullah dan para sahabatnya dalam berdakwah terlebih karena dakwah itu tidak sama atmosfernya seperti sekarang ini. Jika sekarang di Indonesia, orang-orang sudah bisa dengan cukup leluasa mengekspresikan keislamannya, maka tidak demikian halnya Rasulullah dan para sahabat dahulu. Mereka harus menghadapi boikot, penolakan, cemoohan, fitnahan, ancaman pembunuhan, hingga siksaan fisik saat mengekspresikan keimanannya.
Dahulu, kaum Muslimin di Makkah adalah golongan minoritas. Minoritas dalam hal kuantitas maupun sumberdayanya. Minoritas pula dalam hal kekuatannya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah dan sahabatnya belum mampu berbuat banyak ketika keluarga Yasir disiksa.
Isteri Yasir, dan Yasir sendiri akhirnya menemui syahid mempertahankan keislaman mereka. Namun kurun 13 tahun itulah periode pematangan dakwah, hingga akhirnya suatu hari mereka (kaum Muslimin) menjadi sebuah kekuatan raksasa, tidak hanya untuk ukuran chiefdom seperti Makkah, tapi juga raksasa untuk ukuran kingdom seperti Romawi dan Persia. Lalu apa yang menjadi titik balik perubahan mereka? Benar sekali, peristiwa Hijrah!

Hijrah menandai awal dari fase perubahan kaum Muslimin ke arah yang lebih baik dan digdaya. Peristiwa ini, jika dilihat dari perspektif teorinya Malcolm Gladwell, menjadi sebuah tipping point lahirnya kekuatan kaum Muslimin. Masyarakat muslim Makkah pindah menuju Madinah, tempat yang dihuni Muslimin lainnya untuk membentuk sebuah koloni baru dengan atmosfer dan kondisi sosial yang lebih baik tentunya. Kepindahan itu setidaknya menyiratkan satu hal, yakni sikap proaktif untuk keluar dari zona status quo yang mengekang.
Kaum Muslimin pada saat itu tak boleh terus tertindas, tak boleh terus terjajah. Patut diakui bahwa pada saat itu tak sedikit kaum Muslimin yang sebenarnya berada pada posisi aman karena punya kedudukan sosial yang dihormati plus ekonomi yang mapan. Sebutlah misalnya Abu Bakr, Saad bin Abi Waqash, dan Utsman bin Affan. Namun kondisi aman itu tak membuat mereka stagnan dan mempertahankan status quo. Saat ada perintah hijrah, para konglomerat itu tak segan-segan meninggalkan hartanya dan mengambil resiko untuk memulai semuanya dari nol lagi. Alih-alih mementingkan diri sendiri, ada sebuah solidaritas sosial yang menuntut untuk memperhatikan muslim lainnya yang tak seberuntung mereka.

Senin, 26 Maret 2012

“Manusia Pengkritik atau Manusia Pembelajar?”

Affiliate Marketing Forum
Affiliate Marketing Forum




Sahabatku, Manusia Pengkritik disebut pula Manusia Perfeksionis. Jenis baru spesies manusia diabad ke-21 ini. Jika manusia biasa mempunyai nama ilmiah Homo sapiens , maka spesies Manusia Perfeksionis mempunyai nama ilmiah Homo sapiens perfecto. Manusia Perfeksionis mempunyai gambaran seperti manusia bertanduk dua di kepala, otaknya super genius (melebihi manusia jenius abad ini), dengan badan yang tegap dan kuat. Tepat seperti apa yang digambarkan Charles Darwin, dalam teori Evolusinya.
Bentuk lain dari manusia Perfeksionis adalah manusia Narsis, dan manusia Holic, Tetapi nampaknya manusia Pengkritik lebih berbahaya, dari kedua jenis ini. Manusia Pengkritik bisa membuat spesies homo sapiens punah, sebab dialektika keahlian menjatuhkan spesies homo sapiens melalui senjata mulutnya dan senjata tangannya mampu menciptakan disintegrasi mental. Sementara manusia Narsis tidak cukup merugikan spesies Homo sapiens -tidak berbahaya- hanya ingin tampil perfeksionis dimata spesies kaum Homo sapiens. Jika manusia Holic, juga dapat memusnahkan manusia Homo sapiens, hanya riil melalui tindakan, perbuatan dan perilakunya.
Keahlian utama dari manusia pengkritik –seperti namanya- yaitu Mengkritik. Jangan ditanya apakah kemampuan mengkritiknya sehebat apa. Sangat-sangat hebat. Bahkan sudah lama manusia Pengkritik mempunyai andil dalam menciptakan pekerjaan baru: “kritikus”. Keahlian kritikus tidak dimiliki oleh sembarang orang, hanya orang yang memiliki daya pandang berbeda dari berbagai sudut saja mampu menjadi kritikus profesional. Jadi jika kita menemukan, seorang yang mempunyai bakat dan minat tinggi dibidang kritik-mengkritik, jangan lantas keburu dibenci, tetapi hargailah mereka dengan menempatkannya pada bidang kritikus ini.

Kamis, 10 November 2011

Tradisi dan Prestasi Keilmuan

Tradisi keilmuan berbeda dengan prestasi keilmuan. Prestasi keilmuan bersifat sesaat. Itulah sebabnya kita kemudian bisa paham, kenapa seseorang dengan nilai matematika yang bagus ternyata tidak mampu berpikir logis. Atau seseorang dengan nilai ilmu alam yang tinggi ternyata tidak mampu memecahkan masalah dengan ilmunya itu. Seseorang ... dengan nilai pelajaran sejarah yang tinggi ternyata tidak membuat dia paham terhadap lingkungan sosialnya, hubungan antar manusia dan antar bangsa, serta kepekaan kebangsaan dan kemanusiannya

Sementara tradisi keilmuan bersifat permanen. Seorang anak yang memiliki tradisi keilmuan tetap akan belajar sepanjang hayatnya. Dia tetap akan belajar dan mencoba mencari jawaban atas tantangan jamannya. Mereka akan mencari pencapaian baru sepanjang hidupnya. Mereka akan belajar tidak untuk sekadar sebuah prestasi, melainkan untuk mengubah diri mereka sendiri. Untuk berproses menjadi manusia paripurna.